61 Desa di OKI Rawan Karhutla, MPA Jadi Garda Terdepan

Bagikan Berita

KAYUAGUNG,Wartasumselbabel.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Sebanyak 107 desa tercatat masuk dalam wilayah rawan karhutla, dengan 61 desa di antaranya berada pada kategori kerawanan tinggi dan sangat tinggi.

Mengantisipasi ancaman tersebut, Pemkab OKI mengoptimalkan peran Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla di tingkat desa.

MPA dilibatkan sejak tahap pencegahan, patroli dan deteksi dini, hingga pemadaman awal serta pelaporan kejadian kepada pihak berwenang. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat respons, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Berdasarkan Peta Sebaran Desa Rawan Karhutla Kabupaten OKI, 61 desa dengan tingkat kerawanan tinggi dan sangat tinggi tersebut tersebar di lima kecamatan. Rinciannya, Tulung Selapan sebanyak 17 desa, Pangkalan Lampam 12 desa, Cengal 12 desa, Sungai Menang 11 desa, dan Pampangan 8 desa.

Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan masyarakat memiliki posisi penting dalam pengendalian karhutla karena berada paling dekat dengan kawasan yang berpotensi terjadi kebakaran.

“Karhutla harus dicegah dan ditangani sejak dini. Penguatan peran masyarakat di wilayah rawan penting agar ketika ada titik api, bisa segera diketahui, dilaporkan, dan ditangani sebelum meluas,” ujar Muchendi saat meninjau lokasi karhutla di Desa Pulau Beruang, Kecamatan Tulung Selapan, Selasa (6/10/2026).

Sarana Pemadaman Disiagakan

Untuk mendukung tugas MPA, Pemkab OKI juga menyiagakan berbagai sarana pemadaman darat. Di antaranya penggaruk api (fire rake), pemukul api (fire beater), pompa jinjing, pompa punggung (jet shooter), selang pemadam, nozzle, wire connector, serta sepatu bot.

Ketersediaan peralatan dinilai penting mengingat OKI memiliki wilayah yang luas dengan sejumlah desa dan kawasan rawan berada cukup jauh dari pusat pemerintahan kabupaten.

Dengan kondisi tersebut, kecepatan respons di tingkat desa menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

“Sarana harus memadai agar respons di lapangan lebih cepat dan pemadaman dapat dilakukan sebelum kebakaran berkembang,” kata Muchendi.

Libatkan Banyak Unsur

Penanganan karhutla di OKI dilakukan secara berlapis. Selain MPA, Pemkab OKI menyiagakan personel gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI dan Polri.

Di sisi lain, terdapat 176 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang dibentuk perusahaan di sekitar wilayah konsesi masing-masing untuk membantu upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.

Melalui pola tersebut, masyarakat menjadi bagian penting dalam deteksi dan respons awal di tingkat desa. Apabila kondisi kebakaran membutuhkan penanganan lebih lanjut, kekuatan dapat diperkuat BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, perusahaan dan unsur terkait lainnya.

Muchendi menegaskan pengendalian karhutla tidak dapat dilakukan pemerintah seorang diri. Seluruh unsur harus bergerak bersama agar setiap kejadian dapat segera diketahui dan ditangani.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat, perusahaan, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, dan seluruh unsur di lapangan harus bergerak bersama. Semakin cepat api diketahui dan ditangani, semakin kecil risiko meluasnya kebakaran,” tegasnya.

(Nelly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *